GUdpBSYpTSd0TSY5TUW8TSC5TA==

Membangun SMK yang Siap Menjawab Tantangan Revolusi Industri 4.0

Ilustrasi - (Foto: Dok/Ist).

Suara Time, Kolom - Indonesia menghadapi tantangan besar dalam pendidikan vokasional di era Revolusi Industri 4.0. Instruksi Presiden tentang Revitalisasi SMK bertujuan memperbaiki sistem ini, namun berbagai kendala masih menghambat. Di antaranya, lulusan SMK yang belum siap kerja, minimnya link and match dengan industri, serta kurangnya tenaga pengajar kejuruan berkualitas.

Lulusan SMK Belum Siap Kerja

Data BPS 2018 menunjukkan 11,24% dari 7 juta pengangguran terbuka berasal dari lulusan SMK. Kompetensi yang tertinggal, peralatan bengkel usang, dan minimnya kerja sama magang dengan industri menjadi penyebab utama. Tanpa perbaikan ini, lulusan SMK sulit bersaing di dunia kerja.

Lulusan SMK Melanjutkan ke Perguruan Tinggi

Banyak lulusan SMK memilih kuliah karena merasa belum siap kerja. Ini menandakan SMK belum efektif dalam mencetak tenaga kerja siap pakai. Jika tidak segera diperbaiki, SMK bisa kehilangan relevansinya.

Link and Match yang Belum Maksimal

Banyak jurusan di SMK yang tidak lagi sesuai dengan kebutuhan industri. Lemahnya komunikasi antara SMK dan DUDI menyebabkan kesenjangan kompetensi, sehingga lulusan sulit terserap di dunia kerja.

Tantangan Revolusi Industri 4.0

Perkembangan IoT dan otomatisasi industri menuntut SMK untuk beradaptasi. Namun, banyak SMK masih mengandalkan metode konvensional tanpa integrasi teknologi terkini, sehingga lulusannya semakin tertinggal.

Kesenjangan Supply and Demand antara DUDI dan SMK

Minimnya sinkronisasi antara jumlah lulusan dan kebutuhan industri menyebabkan pengangguran tinggi di kalangan lulusan SMK. Kolaborasi yang lebih erat antara SMK dan DUDI sangat diperlukan.

Darurat Guru Kejuruan

Ketimpangan distribusi guru kejuruan juga menjadi hambatan. Banyak daerah mengalami kekurangan tenaga pengajar, sementara daerah lain mengalami kelebihan. Selain itu, tingginya jumlah guru non-PNS menunjukkan masih kurangnya tenaga pengajar tetap di SMK.

Solusi yang Bisa Direalisasikan

  1. Peremajaan peralatan dan kerja sama erat antara SMK dan industri.
  2. Pelatihan bersertifikasi bagi peserta didik agar memiliki kompetensi yang diakui.
  3. Revitalisasi SMK untuk peningkatan kualitas pendidikan vokasional.
  4. Peningkatan jumlah dan kualitas guru kejuruan.
  5. Pendataan supply-demand agar lulusan sesuai dengan kebutuhan industri.
  6. Pembekalan keterampilan berbasis IT bagi peserta didik.

Dengan sinergi pemerintah, SMK, dan industri, diharapkan lulusan SMK siap kerja, berdaya saing, dan mampu menghadapi Revolusi Industri 4.0.


*) Penulis adalah Daniel Jesayanto Jaya, Mahasiswa Doktoral Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Universitas Negeri Yogyakarta, Praktisi Vokasional.

Komentar0

Type above and press Enter to search.