GUdpBSYpTSd0TSY5TUW8TSC5TA==

Dampak Pelecehan Seksual: Bagaimana Korban Bisa Berubah Jadi Pelaku?

Penulis: Atikah Putri Hanifah - Universitas Pendidikan Indonesia. (Foto: pixabay).

Suara Time, Kolom - Di Indonesia, masalah pelecehan seksual—terutama yang terjadi pada anak-anak dan remaja—masih sering dianggap tabu untuk dibicarakan. Padahal, efek dari pelecehan seksual sangatlah nyata. Efeknya tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, tetapi juga dapat mempengaruhi kehidupan korban dalam jangka panjang. Ada fakta yang sering tidak kita sadari atau bahkan tidak kita ketahui bahwa trauma dari kekerasan seksual bisa membawa korban pada risiko menjadi pelaku kekerasan seksual di kemudian hari. Seperti yang dialami oleh dua anak binaan di sebuah lembaga pembinaan anak di Indonesia, A dan B. Mereka melakukan aksi pelecehan seksual setelah sebelumnya pernah menjadi korban dari orang-orang terdekat mereka. Mengejutkan, bukan? Mari kita bahas fenomena ini juga solusi untuk memutus lingkaran kekerasan ini.

Trauma yang Tidak Diatasi Bisa Membawa Masalah Baru! 

Ketika seseorang mengalami pelecehan seksual, luka yang ditinggalkan tidak hanya fisik, tetapi juga psikologis. Luka psikologis ini bisa membekas sangat lama dan, jika tidak ditangani, bisa berdampak pada perilaku korban. Penelitian Nurwulan dan Khairi (2023) menunjukkan bahwa pengalaman kekerasan seksual di masa kecil sering kali merusak cara korban memandang hubungan interpersonal dan perilaku seksual. Trauma tersebut bisa menciptakan pola pikir yang menyimpang, sehingga beberapa korban berisiko menjadi pelaku di masa depan. 

 A sendiri menjadi korban sejak berusia 10 tahun hingga 13 tahun oleh pelaku. Selama bertahun-tahun, A tidak sepenuhnya menyadari bahwa apa yang dialaminya adalah sebuah bentuk kekerasan, karena pelaku memberikan imbalan berupa materi. Situasi ini membuat A merasa bingung dan terjebak dalam dinamika yang merusak cara pandangnya terhadap hubungan interpersonal.

Rini (2020) menambahkan bahwa dampak trauma kekerasan seksual yang dialami korban korban dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti siapa pelaku kekerasan, jenis pelecehan yang dialami, serta dukungan sosial yang diterima. Korban yang tidak mendapatkan dukungan dari keluarga, teman, atau lingkungan, cenderung merasa sendirian. Mereka mungkin menyimpan emosi negatif seperti marah, sedih, rasa bersalah, atau bahkan kebencian. Jika emosi ini tidak dikelola dengan baik, lama-kelamaan bisa berubah menjadi pola perilaku destruktif, termasuk kekerasan terhadap orang lain. 

Sementara itu, B memilih untuk tidak bercerita kepada siapa pun tentang pelecehan yang dialaminya. Rasa takut, malu, dan kurangnya dukungan membuatnya memendam emosi negatif. Ketika akhirnya B berani untuk menjelaskan lebih lanjut, ia mengungkapkan bagaimana tekanan yang ia alami menyebabkan dirinya kesulitan mengekspresikan emosi dengan cara yang sehat. Tekanan ini memicu perilaku destruktif hingga akhirnya ia sendiri menjadi pelaku kekerasan.

Penelitian Ahyun et al., (2022) menemukan bahwa kurangnya edukasi tentang pelecehan seksual serta minimnya perlindungan terhadap korban memperburuk kondisi psikologis mereka. Korban yang hidup dalam lingkungan seperti ini cenderung merasa tidak ada harapan. Bahkan, dalam beberapa kasus, mereka mungkin tanpa sadar mengulang pola kekerasan yang pernah mereka alami, karena itu adalah satu-satunya cara yang mereka tahu untuk "mengatasi" perasaan mereka. Dalam kasus seperti A dan B, situasi ini menciptakan lingkaran kekerasan yang sulit diputus. Ketidakpastian akan dukungan dan pemahaman dari lingkungan membuat korban cenderung terjebak dalam pola trauma yang berulang.

Memutus Lingkaran Kekerasan: Apa yang Bisa Kita Lakukan? 

Meski masalah ini terdengar kompleks, ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk membantu korban dan mencegah mereka menjadi pelaku. Langkah pertama yang paling penting adalah memberikan dukungan psikologis kepada korban. Akses ke terapi atau konseling sangat diperlukan agar korban bisa memproses trauma yang mereka alami. Jangan anggap remeh kekuatan berbicara dengan ahli, ya! Dengan bantuan profesional, korban bisa belajar untuk mengelola emosi mereka dan membangun kembali rasa percaya diri.  

Selain itu, lingkungan yang mendukung juga sangat penting. Keluarga, teman, dan masyarakat memiliki peran besar dalam membantu korban pulih. Dukungan emosional seperti mendengarkan cerita mereka tanpa menghakimi atau memberikan rasa aman bisa membuat korban merasa dihargai dan didukung.  

Yang tak kalah penting adalah penegakan hukum yang tegas dan efektif. Rosady (2024) menegaskan bahwa sistem hukum harus hadir untuk memberikan perlindungan dan keadilan bagi korban. Ini bukan hanya soal menghukum pelaku, tetapi juga memastikan bahwa korban merasa dilindungi dan didengar. Dengan begitu, mereka bisa melangkah maju tanpa takut akan kekerasan atau ancaman baru.  

Selain intervensi langsung kepada korban, kita juga perlu membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya mencegah kekerasan seksual dan mendukung korban. Edukasi tentang apa itu pelecehan seksual, bagaimana dampaknya, dan bagaimana cara membantu korban harus menjadi bagian dari diskusi publik.  

Ahyun, Solehati, dan Prasetiya (2022) menyebutkan bahwa edukasi dapat mencegah terjadinya pelecehan seksual dengan membangun pemahaman tentang pentingnya menghormati hak orang lain. Selain itu, masyarakat yang teredukasi akan lebih peka terhadap kebutuhan korban dan lebih siap memberikan dukungan.  

Bersama, Kita Bisa Memutus Rantai Kekerasan

Transformasi korban menjadi pelaku bukanlah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba. Ini adalah hasil dari trauma mendalam, lingkungan yang tidak mendukung, dan kurangnya akses terhadap bantuan. Namun, dengan dukungan yang tepat, korban bisa bangkit tanpa harus menjadi pelaku.  

Kita semua memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi korban pelecehan seksual. Dengan memahami fenomena ini, memberikan dukungan, dan mendorong penegakan hukum yang adil, kita bisa memutus rantai kekerasan dan membantu korban menemukan harapan baru. Jadi, mari bersama-sama menciptakan dunia yang lebih peduli dan empati, karena korban butuh dukungan kita, bukan penghakiman.  


Referensi

Ahyun, F. Q., Solehati, S., & Prasetiya, B. (2022). Faktor penyebab terjadinya pelecehan seksual serta dampak psikologis yang dialami korban. Al-ATHFAL: Jurnal Pendidikan Anak, 3(2), 92–97.

Nurwulan, S. N., & Khairi, A. M. (2023). Perilaku penyimpangan seksual: Studi kekerasan seksual masa lalu dalam pembentukan perilaku pedofilia narapidana Lapas Klaten (Doctoral dissertation, UIN Raden Mas Said Surakarta). Institutional Repository UIN Raden Mas Said Surakarta.

Rini, R. (2020). Dampak psikologis jangka panjang kekerasan seksual anak (komparasi faktor: Pelaku, tipe, cara, keterbukaan, dan dukungan sosial). IKRA-ITH Humaniora: Jurnal Sosial dan Humaniora, 4(3), 1–12.

Rosady, A. W. (2024). Perlindungan hukum bagi anak akibat korban pelecehan seksual di wilayah hukum Kepolisian Resor Kota Pekanbaru berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perlindungan Saksi dan Korban (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau). Institutional Repository Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.


*) Penulis adalah Atikah Putri Hanifah - Universitas Pendidikan Indonesia.

Komentar0

Type above and press Enter to search.